AGAMA AUTENTIK VS AGAMA BUSUK

M. Jazeri*

*Dosen Tetap STAIN Tuluangagung

Abstrak

Agama merupakan sebuah paradoks. Di satu sisi, ia mengajarkan perdamaian, cinta kasih, dan keselamatan. Namun, di sisi lain ia menjadi jahat karena menyebabkan terjadinya tragedi kemanusiaan. Dalam pandangan Kimball, ada lima hal yang dapat membuat agama menjadi jahat, korup, atau busuk, yaitu (1) bila suatu agama mengklaim kebenarannya sebagai kebenaran mutlak dan satu-satunya, (2) bila terjadi ketaatan buta terhadap pemimpin keagamaan mereka, (3) bila gandrung merindukan zaman ideal, lalu bertekad merealisasikannya di zaman sekarang, (4) bila agama membenarkan dan membiarkan “tujuan menghalalkan cara”, dan (5) bila agama memekikkan perang suci. 

 

A.    Pendahuluan

Setiap agama, apapun namanya, mengajarkan cinta, kasih sayang, perdamaian, dan keselamatan. Namun, akhir-akhir ini setiap hari kita disuguhi berbagai macam tragedi kemanusiaan yang dilakukan oleh umat beragama.[1] Sindhunata menyebut fenomena ini sebagai paradoks agama.[2] Siapa yang harus disalahkan? Apakah agama sudah tidak mampu lagi menjadi solusi terhadap problematika kehidupan? Menyikapi ketidakberdayaan agama sebagai solusi masalah kehidupan, di Barat muncul kelompok orang yang menganjurkan beragama tanpa “agama”. Bagi kelompok ini, orang baik bukan dilihat dari berapa kali ia ke tempat ibadah, berapa lama ia wirid, berapa kali ia mengkhatamkan kitab suci, melainkan seberapa jauh ia menghargai kehidupan dan kemanusiaan.

Umat beragama, dengan konsep cinta, kasih sayang, dan perdamaian, diharapkan menjadi pelopor terciptanya kehidupan yang damai di mana warganya hidup harmonis, saling menghormati, saling mencintai, dan saling menghargai hak dan kewajiban masing-masing. Tetapi realitanya kekerasan berbasis agama selalu meningkat eskalasinya. Bahkan Baehaqi menyatakan di Indonesia eskalasi kekerasan berbaju SARA telah mencapai “siaga 1”.[3]

Baehaqi mengasumsikan bahwa keadaan di atas berpangkal pada tiga faktor yang saling terkait. Pertama, krisis di berbagai bidang yang terjadi telah menghilangkan kepercayaan masyarakat terhadap aparat pemerintah yang selama ini terlanjur memperlihatkan kondisinya yang korup dan berpihak pada yang kuat. Sementara di masyarakat sendiri terjadi saling curiga yang tinggi antar berbagai kelompok masyarakat yang tersegmentasi dalam SARA itu. Kedua, propaganda-propaganda keagamaan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu telah menciptakan eksklusivitas dan sensitivitas terhadap kepentingan kelompoknya. Misalnya, dalam forum khutbah-khutbah keagamaan biasanya digunakan untuk mengasah dan membakar sensitivitas kelompoknya dengan menegasikan atau bahkan menyerang kelompok lain. Ketiga, kesimpangsiuran informasi sosial politik yang membuat masyarakat seolah tidak ada harapan untuk hidup damai juga kerap memicu tindakan kekerasan terhadap kelompok lain. [4]

 

B.     Pesan Damai Agama-Agama

Setiap agama mengajarkan bagaimana hidup damai di dunia, baik dengan sesama manusia maupun dengan mahluk-mahluk lain. Dalam agama, selalu ditemukan janji kedamaian, baik kedamaian batin para pemeluknya maupun perintah hidup damai dengan seluruh makhluk. 

 

1.      Hindu

Dalam Hindu dikenal istilah santa jagadhita atau sukritama, yaitu masyarakat religius yang hidup dalam kedamaian dan ketenteraman. Ini berarti bahwa umat Hindu hendaknya senantiasa berusaha menciptakan kedamaian di tengah-tengah masyarakat yang berbeda suku bangsa, bahasa, dan agama. Dalam kitab suci Veda banyak ditemukan sabda-sabda Tuhan YME tentang ajaran perdamaian. Berikut ini beberapa di antaranya:

“Wahai umat manusia! Bersatulah dan rukunlah kamu seperti menyatunya para dewata. Aku telah menganugerahkan hal yang sama kepadamu. Oleh karena itu, Ciptakanlah persatuan di antara kamu” (Atharvaveda III.30.4).

 

“Wahai umat manusia! Hiduplah dalam harmoni dan kerukunan. Hendaklah bersatu dan bekerjasama. Berbicaralah dengan satu bahasa dan ambillah keputusan dengan satu pikiran. Seperti orang-orang suci di masa lalu yang melaksanakan kewajibannya, hendaklah kamu tidak goyah dalam melaksanakan kewajibanmu” (Rigveda X.191.2).

 

“Wahai umat manusia! Milikilah perhatian yang sama. Tumbuhkan saling pengertian di antara kamu. Dengan demikian engkau dapat mewujudkan kerukunan dan kesatuan” (Rigveda X. 191.4).

 

“Semoga masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang penuh keramahan dan kedamaian yang kami hadapi” (Atharvaveda XIX.9.2).

 

“Semoga sorga damai, demikian pula langit. Semoga damai dalam air, tanaman dan semua tumbuh-tumbuhan. Semoga para dewa senantiasa damai. Semoga umat manusia senantiasa dalam kedamaian, semoga damai, semoga damai, demikian pula kami memperoleh kedamaian” (Yajurveda XXXVI.17).

 

2.      Buddha

Agama Buddha adalah agama perdamaian, yang mengajarkan umatnya mencintai kehidupan dan terus berjuang untuk menyelamatkan kehidupan ini.[5] Untuk mewujudkan perdamaian, Buddha memiliki konsep metta, yakni cinta kasih universal. Metta lebih luas dan lebih mulia dari semua bentuk persaudaraan yang sempit. Metta tidak dibatasi oleh peraturan-peraturan, bidang-bidang; tidak mempunyai rintangan dan penghalang; tidak mengadakan perbedaan. Metta memungkinkan mereka untuk memandang dunia ini sebagai tanah airnya, tanah airnya yang memiliki budaya perdamaian. Persis seperti Matahari yang memancarkan sinarnya ke segenap arah tanpa membuat perbedaan. Demikian juga metta yang luhur memancarkan berkahnya yang halus dan tenang dan penuh kedamaian itu, sama rata terhadap apa yang dianggap orang-orang sebagai sesuatu yang menyenangkan yang kaya dan yang miskin, yang tinggi dan yang rendah, yang baik dan yang buruk, terhadap yang jahat dan yang baik, terhadap pria dan wanita, manusia dan binatang.

Hasil puncak pengamalan metta adalah penyamaan diri sendiri dengan semua mahluk, tidak membedakan diri sendiri dengan orang lain. Apa yang disebut “AKU” lebur dalam keseluruhan. Paham memisahkan diri lenyap menguap. Penyatuan terlaksana, harmoni tercipta, dan kehidupan penuh nuansa perdamaian.[6]

Mengenai pesan damai dalam Budhha berikut ini beberapa sabda Sang Buddha:

 

“Segala keadaan kita adalah hasil dari apa yang kita pikirkan. Dijadikan oleh pikiran kita dan ditentukan oleh pikiran kita. Kalau kita berkata dan berbuat dengan pikiran positif, yakni pikiran yang penuh dengan cinta kasih, belas kasihan dan simpati terhadap kebahagiaan orang lain, adil dan bijaksana, maka kebahagiaan dan kedamaian akan senantiasa mengikuti kita”

 

“Seorang yang berada di tengah-tengah orang yang membenci, hendaklah orang itu hidup bebas dari kebencian”.

 

“Kebencian tidak akan berakhir kalau dibalas dengan kebencian. Kebencian akan berakhir kalau dibalas dengan cinta kasih atau dengan tidak membenci”.

 

“Kebencian tak dapat dipadamkan dengan kebencian. Hanya sikap tidak membenci yang dapat mengakhirinya. Inilah hukum yang abadi” (Dhammapada, I:5).

 

Di Indonesia, kita mengenal sesanti (motto) yang dikutip dari kitab Sotasoma yang ditulis oleh seorang pujangga besar Buddhis Mpu Tantular “Siwa Buddha Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa”. Sesanti itu dimaksudkan bahwa jalan menuju Tuhan itu dapat berbeda-beda, tetapi yang dituju itu satu adanya. Tidak ada dharma (agama) yang menduakan atau membedakannya.[7]

 

3.      Kristen

Dalam Kristen, ada keyakinan bahwa Yesus adalah tokoh cinta damai dan anti kekerasan. Karena Yesus adalah pembawa damai, maka umat Kristiani juga terpanggil untuk menjadi pembawa damai. Dalam hal ini Yesus bersabda:

 

“Berbahagialah orang yang membawa damai karena mereka akan disebut anak-anak Allah” (Matius 5:8).

 

“Kamu telah mendengar firman: Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berikanlah juga kepadanya pipi kirimu. Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil” (Matius 5:38-41). 

 

Dari dua sabda Yesus di atas dapat dipahami bahwa Yesus mengajarkan umatnya untuk senantiasa menciptakan perdamaian. Jika dimusuhi orang, hendaklah melawan kekerasan tersebut tanpa kekerasan (antistenai).

 

4.      Islam

Islam merupakan agama rahmat (kasih sayang) bagi seluruh alam. Allah berfirman: “Dan tidaklah kami mengutus Engkau ya Muhammad melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam” (QS. Al-Anbiya’:107).

Dalam Islam, perbedaan agama, bangsa, suku bangsa, bahasa, dan warna kulit bukanlah halangan untuk saling bersilaturrahmi. Bahkan silaturrahmi inilah tujuan utama Allah menciptakan manusia berbeda-beda. Sekiranya Allah menginginkan, niscaya Dia mampu membuat manusia satu umat saja. Firman Allah:

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan, dan Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal” (QS. Al-Hujurat:13).

 

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlaian bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang mengetahui” (QS. Ar-Rum:22).

 

“Hai segenap manusia, sebarkanlah salam, sedekahkanlah makanan, dan sambunglah tali persaudaraan (silaturrahmi) serta shalatlah di kala manusia tidur di kegelapan malam, niscaya kamu masuk surga dengan penuh kedamaian” (HR. Tirmidzi).

 

Al-Qur’an mengajarkan bahwa kaum muslim harus percaya kepada seluruh nabi dan rasul tanpa membedakan (QS. Al-Baqarah:136), inti agama seluruh rasul adalah sama (QS. As-Syura:13, Ali Imran:64) serta umat dan agama mereka adalah umat serta agama yang satu (QS. Al-Ambiya’:92, al-Mu’minun:52). Selain itu, al-Qur’an juga mengajarkan bahwa walaupun inti agama itu sama, kepada setiap umat diberikan syir’ah (jalan) dan minhaj (cara) yang berbeda-beda. Adanya ketetapan ini karena Allah menghendaki agar manusia saling berlomba dalam berbagai kebaikan, bukan saling membenci.

 

5.      Aliran Kebatinan dan Kepercayaan

Di Indonesia, tumbuh subur aliran kebatinan.  Aliran kebatinan yang sangat banyak di Indonesia juga mengajarkan perdamaian. Sapta Darma misalnya, mengajarkan “Ning ngendi bae, marang sapa bae warga Sapta Darma kudu sumunar pindho baskoro” (dimana pun, kepada siapa pun, warga Sapta Darma harus menerangi laksana mentari). Dalam Pran-Suh, salah satu dari angger-angger sebelasnya mengatakan “Cinta kasih kepada sesama manusia”.[8] Demikian juga dalam Paguyuban Sumarah, tujuan sosialnya adalah “Mamayu hayuning bawana” (mempercantik indahnya dunia).[9]

 

 

 

C.    Agama Autentik

Agama autentik memiliki dua pengertian. Pertama, agama yang asli, dari sumber asli, dan belum “dikotori” oleh kepentingan manusia. Baik kepentingan politik, sosial, ekonomi, budaya dan sebagainya. Kedua, agama autentik berarti pemaknaan agama berdasarkan sumber autentik untuk melucuti pembusukan dan kekorupan suatu agama. Agama autentik bukan agama yang telah dikorup atau dibusukkan. Jadi, agama autentik berarti lawan dari agama yang korup atau busuk.[10] Agama autentik adalah hakikat agama yang selalu membawa keterikatan kepada Tuhan.[11] Dalam agama autentik orang selalu menemukan janji kedamaian, baik kedamaian batin para pemeluknya maupun keharusan mencari koeksistensi damai dengan seluruh makhluk.

Mengenai agama autentik ini, di kalangan Islam beberapa agamawan berusaha memisahkan antara pesan hakiki agama dengan pemahaman manusia terhadap pesan tersebut. Nurcholish Madjid misalnya, membedakan antara Islam sebagai doktrin dan Islam sebagai peradaban,[12] Masdar membedakan antara agama subjektif-objektif dan agama simbolik, dan Amin Abdullah membedakan agama normatif dan agama historis.

Agama sebagai kesunyatan subjektif; iman adalah kerinduan dan kepasrahan ruhani kepada Yang Mutlak, tempat seluruh yang nisbi mempertaruhkan diri. Agama sebagai kesunyatan objektif adalah akhlak alkarimah, yakni realitas kehidupan manusia yang agung. Sebagai kesunyatan objektif agama bersifat ahistoris, inklusif, tidak mengenal batas kesukuan, ras, bahasa, dan lain sebagainya. Sementara agama simbolik bersifat eksklusif, historis, dan nisbi.

Masdar mengingatkan bahwa sedikit demi sedikit umat beragama tertipu dan memandang agama simbolik itulah sebagai agama sebenarnya. Di kalangan umat Islam misalnya, diajarkan bahwa agama adalah apa yang dibawa Rasul dari Allah untuk manusia. Jika agama yang dibawa Muhammad itu Islam, maka al-Qur’an itulah Islam, atau Islam itulah al-Qur’an. Begitu al-Qur’an tidak sepenuhnya bisa dijangkau, maka Islam didefinisikan sebagai sunnah Rasul. Ketika sunnah Rasul pun tidak mampu dijangkau, maka Islam didefinisikan dengan pikiran, fatwa, dan tingkah laku para ulamanya. Akhirnya, Islam pun didefinisikan sebagai tradisi serta perlambang-perlambang umat pemeluknya. Inilah yang dimaksud Masdar sebagai distorsi agama yang berkembang dari jaman ke jaman.[13]

Dengan kembali ke agama autentik, Kita berharap umat beragama mampu mengafirmasikan kehidupan, menebarkan cinta dan kasih sayang, serta melayani manusia dan dunianya. Pada akhirnya agama benar-benar menjadi solusi terhadap problematika kehidupan manusia dan mahluk secara umum.

 

D.    Agama Busuk

Dalam pandangan Kimball, ada lima hal yang dapat membuat agama menjadi busuk, jahat, atau korup. Pertama, bila suatu agama mengklaim kebenarannya sebagai kebenaran mutlak dan satu-satunya. Kedua, bila terjadi ketaatan buta terhadap pemimpin keagamaan mereka. Ketiga, bila gandrung merindukan zaman ideal, lalu bertekad merealisasikannya di zaman sekarang. Keempat, bila agama membenarkan dan membiarkan “tujuan menghalalkan cara”. Kelima, bila agama memekikkan perang suci.

1.      Klaim Kebenaran Mutlak dan Satu-satunya

Bila suatu agama mengklaim kebenaran agamanya sebagai kebenaran mutlak dan satu satunya, maka agama tersebut akan membuat apa saja untuk mendukung dan membenarkan klaim kebenarannya. Agama tersebut tidak peduli bahwa “Tuhan” sebenarnya hanyalah sebutan bahasa manusia tentang Ke-Segala-Maha-an yang tidak bisa diungkapkan oleh kemiskinan bahasa manusia. Klaim ini berarti mengurangi dan memiskinkan Tuhan dari Ke-Segala-Maha-an-Nya. Celakanya, justru pengurangan dan pemiskinan inilah yang menjadi titik tolak untuk menyalahkan pengertian Tuhan pemeluk agama lain.

Klaim kebenaran mutlak biasanya didasarkan bahwa kitab suci mereka memang mengajarkan demikian. Memang harus diakui ada teks-teks kitab suci yang berisi klaim kebenaran mutlak dan satu-satunya jalan keselamatan. Namun, sesungguhnya teks itu tidak dapat dibaca secara lahiriah melainkan harus dibaca dengan bahasa iman dan cinta. Jika seorang anak mengatakan hanya ayahnya yang paling baik, sementara anak yang lain juga mengatakan ayahnyalah satu-satunya ayah yang terbaik, maka ungkapan kebenaran mereka haruslah dipahami sebagai bahasa cinta dan kepercayaan. Jadi, kebenaran yang diungkapkan tidak didefinisikan sebagai kebenaran yang menafikan kebenaran lainnya. Jika tidak, teks-teks kitab suci bisa disalahgunakan untuk kepentingan apa saja.

Klaim kebenaran (truth claim) inilah yang banyak menimbulkan konflik dan menyebabkan manusia kehilangan harapan besar terhadap peran agama mengatasi problem dunia. Amin Abdullah menyatakan bahwa jika klaim kebenaran hanya terbatas aspek ontologis-metafisis barang kali tidak merisaukan. Tetapi jika klaim kebenaran memasuki wilayah sosial politik yang praktis-empiris perlu diwaspadai.[14] Para pakar studi agama menemukan bahwa di lingkungan intern umat agama sendiri, baik Katolik, Protestan, Islam, Hindu, Buddha maupun agama-agama lain, masih disibukkan persoalan truth claim sehingga melupakan aspek isoteris agama-agama yang ada. Bahkan truth claim ini cenderung menyempitkan ruang kebenaran. Misalnya, dalam suatu agama ada dua aliran besar maka akan ada dua truth claim. Jika kelompok ini terpecah lagi menjadi dua, akan ada empat truth claim yang saling menafikan. Akibatnya, orang lalu lebih melihat dan mementingkan agama sebagai kelembagaan eksoteris dan identitas lahiriah, bukan melihat dan mementingkan nilai-nilai spiritual yang dikandungnya (isoteris).[15]

Lebih lanjut, Amin mengingatkan bahwa teologi bukanlah agama. Teologi adalah hasil rumusan akal pikiran manusia yang dipengaruhi waktu dan situasi sosial yang ada. Itulah sebabnya mengapa ada teologi Mu’tazilah, Asy’ariyah, dan sebagainya. Meski sumbernya kitab suci, namun teologi adalah pemahaman manusia terhadap kitab suci tersebut, jadi bisa salah (fallible).[16]

Agama, secara teologis terpisah satu dengan lainnya. Karena itu, wajar jika setiap penganut agama mengklaim ajarannya sebagai yang paling benar, yang menjanjikan satu-satunya jalan keselamatan. Namun, secara historis sosiologis agama selalu muncul dalam format plural, bukan tunggal. Jadi, ada pluralisme agama sebagaimana pluralisme bahasa, etnis, dan bangsa.[17] Untuk itu, kita harus menerima kenyataan bahwa ada agama lain di luar agama kita, ada keyakinan lain selain yang kita yakini, ada jalan keselamatan lain selain yang kita lalui.  Sikap yang paling fair adalah membiarkan orang lain bebas mengaktualisasikan keyakinannya tanpa saling menafikan. Bukankah keberagaman agama merupakan kehendak Tuhan? Karena jika menghendaki niscaya Tuhan akan menurunkan satu agama saja.

2.      Ketaatan Buta Kepada Pemimpin Agama

Akhir-akhir ini, banyak bermunculan gerakan-gerakan agama yang bertentangan dengan akal sehat, membatasi kebebasan intelek, dan menafikan integritas individual para pengikutnya dengan cara menuntut ketaatan buta terhadap pemimpin kharismatik mereka. Sejarah membuktikan bahwa gerakan keagamaan seperti itu telah menimbulkan tragedi kemanusiaan. Misalnya, gerakan People Temple pimpinan Jim Jones di Uyana (tahun 70-an), Aum Shinrikyo pimpinan Asahara Shoko di Jepang (tahun 90-an), dan David Koresh di Texas (tahun 90-an). Di Indonesia pun tidak ketinggalan, ada gerakan Mahdi di Sulawesi (tahun 2005), Lia Aminudin yang mula-mula mengaku sebagai nabi (akhir tahun 90-an) dan kini muncul lagi dengan mengaku sebagai Malaikat Jibril (2005).

Ciri gerakan-gerakan keagamaan di atas relatif sama, yakni mulai dengan gerakan pembebasan rakyat dari kejahatan sosial. Kemudian mereka membentuk masyarakat eksklusif yang menganggap hanya kelompok merekalah yang benar dan akan selamat. Karena itu, mereka mengangap kelompok luar sebagai orang yang salah, kafir, dan sesat. Bahkan ada yang menganggap kelompok luar najis, meskipun memeluk agama yang sama dengan mereka. Pemimpin mereka dianggap sebagai orang yang memiliki kekuasaan dan kebijaksanaan tanpa batas serta terbebas dari kesalahan (maksum), nyaris menyamai Tuhan.

Masih segar dalam ingatan kita selama kampanye partai politik. Banyak tokoh agama yang terlibat baik langsung maupun tidak langsung. Ketika bernaung di partai yang berbeda, para tokoh agama pun memiliki fatwa yang berbeda yang tentu demi keuntungan partai yang dibelanya. Mereka bisa menafsirkan ayat kitab suci yang berbeda sesuai pesan partainya. Agama dipaksa untuk mengikuti selera politik tokohnya. Misalnya, sebagian kyai berfatwa presiden wanita hukumnya haram karena kebetulan jagonya laki-laki. Sementara kelompok kyai lain berfatwa boleh memilih presiden wanita. Herannya, kelompok pertama kemudian membolehkan presiden wanita karena presiden laki-laki yang mereka dukung ternyata mengecewakan mereka. Berkaitan dengan hal ini, mengutip Shakespeare, Kimball mengatakan, “Setan pun bisa mengutip kitab suci untuk kepentingannya”. Jika dalam situasi seperti itu umat tidak bersikap kritis, maka mereka hanya akan dijadikan “keledai” oleh para tokoh agama.

Keterlibatan agama dalam politik akan menjadi positif, bahkan diperlukan, selama tokoh-tokoh agama yang terlibat bisa menjaga martabat keluhuran agama, bukan sebaliknya malah menjadikan agama sebagai pemberi legitimasi kepentingan kelompok ideologis yang memperalat agama untuk kepentingan sesaat. Proses ideologisasi dan manipulasi peran sakral agama selalu saja terjadi dari masa ke masa karena secara sosiologis agama memiliki kekuatan untuk menciptakan solidaritas kelompok guna menyaingi dan mengalahkan kelompok lain. Di sinilah titik rawan di mana seorang tokoh agama mudah terayu oleh kepentingan-kepentingan politik.

3.      Merindukan Zaman Ideal

Zaman ideal adalah zaman di mana pemeluk agama hidup dengan damai, terbebas dari dosa, menaati ajaran agama, dan penuh kebahagiaan. Visi religius semacam ini menurut Kimbal sesungguhnya sah-sah saja. Namun, jika visi itu mulai direalisasikan, dan para pemeluknya meyakini bahwa itu kehendak Tuhan, biasanya mendorong para pemeluk agama untuk mendirikan negara teokratis. Padahal, dalam kisah Al-Kitab praktik negara teokratis pernah hancur, misalnya saat raja Daud dan Sulaiman berada dalam titik nadir pemerintahannya yang kemudian diikuti dengan jatuh bangunnya  pemerintah Israel yang diakhiri dengan kehancuran total Jerusalem dan pembuangan orang Yahudi ke Babilonia, tahun 587 SM.

Jauh setelah itu, muncul lagi kegandrungan terhadap zaman ideal dengan mendirikan negara teokratis. Namun, lagi-lagi sejarah menunjukkan betapa fatal akibatnya. Lihat saja misalnya rezim Taliban di Afghanistan yang kejam terhadap rakyatnya sendiri demi menaati syariat Islam; begitu juga ide negara Yahudi oleh Rabi Mei Kahane yang konsekwensinya harus mengusir bangsa Arab dari Judea dan Samaria.

Semua agama diyakini akhirnya berujung pada usaha menciptakan kebaikan untuk manusia, baik di dunia maupun di akhirat. Kalau inti agama adalah iman secara pribadi, maka agama Islam, Kristen, Hindu, Budha dan sebagainya tidak akan menimbulkan konflik. Namun, kalau agama sudah menjelma menjadi organisasi, akan rentan terjadi konflik. Artinya, organisasi membutuhkan umat dan anggota yang terdaftar. Agar misinya berjalan lancar, dibituhkan dana. Dari sinilah timbul persaingan dan aspek-aspek yang menjadi masalah dalam agama. 

Karena itu, orang konversi (pindah) agama dianggap tabu. Kalau dipikir secara jernih, apa sih salahnya pindah agama? Kalau orang sudah tidak percaya lagi dengan agama yang dianutnya, untuk apa “dipaksa” dipertahankan? Bukankah dengan pindah agama seseorang tetap mendapatkan keselamatan? Namun, karena agama telah menjadi organisasi, pindah agama menimbulkan persoalan. Sebab akan ada agama yang terkurangi anggotanya dan ada agama yang bertambah anggotanya. Bukankah keberhasilan suatu organisasi (agama) dilihat dari jumlahnya? Bukankah suatu organisasi (agama) itu berkurang pamornya kalau anggotanya sedikit? Jadi, salah satu sebab penting terjadinya konflik antar agama sebenarnya ada pada aspek organisasinya yang dilatari aspek sosial ekonomi.[18] Perang Israel vs Palestina misalnya, oleh banyak pengamat bukan pertentangan Islam vs Yahudi, melainkan perebutan wilayah pemukiman. Agama Islam dan Yahudi hanya diperalat agar mendapat simpati dari umat Islam maupun umat Yahudi.

Dengan demikian, dapat diprediksikan jika agama menjelma menjadi negara akan banyak pelanggaran-pelanggaran dan penindasan atas nama agama. Padahal, seperti disampaikan oleh Tolhah Hasan, secara jujur harus dikatakan bahwa agama yang kita jalankan merupakan pemahaman subjektif kita terhadap wahyu Tuhan.[19] Atau, seperti diingatkan Amin Abdullah di atas bahwa teologi adalah pemahaman manusia terhadap kitab suci yang tak terlepas dari realitas sosial yang dihadapi. Karena itu tentu saja bisa salah.

4.      Membenarkan dan Membiarkan “Tujuan Menghalalkan Cara”

Setiap agama memiliki komponen-komponen seperti komunitas, ruang dan waktu yang  sakral, serta institusi keagamaan. Meskipun semua itu hanya sarana, namun tidak sedikit yang menjadikan sarana tersebut sebagai tujuan. Untuk mencapai tujuan itu, dipakailah pembenaran segala cara. Inilah yang membuat sebuah agama menjadi jahat, korup, atau busuk.

Agama Kristen misalnya, awalnya berusaha membangun identitas diri dengan membangun komunitas Kristiani. Akhirnya, komunitas ini bersikap eksklusif dan mengambil jarak dengan komunitas Yahudi. Akibatnya, berkembanglah sikap permusuhan antara komunitas Kristiani dengan komunitas Yahudi. Bahkan, pembantaian besar-besaran bangsa Yahudi oleh Nazi disinyalir berakar dari sikap permusuhan dua komunitas tersebut. 

Ruang-ruang sakral yang merupakan sarana agama pun sudah menjadi tujuan. Itulah sebabnya mengapa umat suatu agama mati-matian mempertahankan, bahkan merebut tempat-tempat suci mereka. Demi tujuan ini, setiap agama pun saling menafikan agama lain. Yahudi misalnya, agama selain Yahudi adalah agama ciptaan syetan. Dalam Kristen pun kita kenal “extra ecclessiam nulla salus” (di luar gereja tidak ada keselamatan) dan “extra ecclessiam nullus propheta” (di luar Kristen tidak ada Nabi). Bahkan Muhammad dicap sebagai utusan syetan.[20] Begitu juga dalam Islam “selain Islam adalah kafir dan tidak akan diterima oleh Tuhan”.

Institusi agama juga sudah dijadikan tujuan. Misalnya, inkuisisi dalam gereja Katolik menjadi sangat kejam kepada mereka yang dianggap menentang atau tidak sejalan dengan doktrin gereja. Copernikus, Galileo Galilei merupakan contoh kekejaman inkuisisi ini.  Terbukti, setelah 300 tahun kemudian gereja minta maaf atas kesalahannya. Jadi, hukuman yang dijatuhkan kepada mereka sebenarnya bukanlah hukuman agama, melainkan lebih tepat dikatakan “hukuman yang salah atas nama agama” karena ketidaktahuan para agamawan terhadap kebenaran ilmu pengetahuan.

5.      Menyerukan Perang Suci

Agama yang telah berubah menjadi organisasi, institusi, dan simbol biasanya mempertahankan kebenaran agama dan mengejar tujuannya dengan cara memekikkan perang suci (sacrum bellum). Inilah yang oleh Kimball disebut sebagai agama busuk. Tidak sulit mencari contoh untuk membuktikan kejahatan agama itu. Perang salib, perang Palestina-Israel, pembantaian muslim Bosnia, pertikaian Hindu dan Muslim di Kashmir, pertikaian maut antara umat Kristen dan Muslim di Nigeria, perang Teluk, peristiwa terorisme 11 September 2001, bom Bali I dan II, bom Kuningan, perang Afghanistan, perang Irak merupakan rentetan peristiwa kejam atas nama agama. 

Sejarah membuktikan lebih banyak orang terbunuh dan lebih banyak lagi kejahatan dilakukan atas nama agama dibandingkan atas kekuatan institusi lain mana pun. Para pemimpin dan pejuang terus mempersuasikan perang mereka sebagai perang suci.  Dalam perang itu, mereka menambah kesalahan-kesalahan besar para pendahulunya dengan mendistorsi inti ajaran agama yang mereka klaim harus dipertahankan. Menyatakan perang itu “suci” merupakan tanda bahwa agama telah diselewengkan.[21] Sebab, di jantung agama autentik orang selalu menemukan janji kedamaian, baik kedamaian batin para pemeluknya maupun keharusan mencari koeksistensi damai dengan seluruh makhluk.[22]

 

E.     Kesimpulan

Secara teologis, perkembangan agama terpisah satu dengan lainnya. Karena itu, wajar jika setiap penganut agama mengklaim ajarannya sebagai yang paling benar, yang menjanjikan satu-satunya jalan keselamatan. Namun, secara historis sosiologis pluralisme agama merupakan keniscayaan yang perlu kita terima secara dewasa. Agama selalu muncul dalam format plural, bukan tunggal. Untuk itu, kita harus menerima kenyataan bahwa planet Bumi yang kita tinggali dihuni oleh manusia dengan beragam bahasa, etnis, bangsa, dan agama. Janji-janji keselamatan dan bimbingan moral serta ajaran budi luhur tidak secara eksklusif dimiliki oleh agama tertentu, melainkan dalam berbagai hal ternyata terdapat kemiripan dan bahkan persamaan antara agama yang satu dengan yang lain.  Karena itu, dewasa ini batas wilayah agama semakin melebar yang kemudian melahirkan meeting zone antara berbagai etika sosial keberagamaan.

Mengingat pluralisme agama merupakan keniscayaan, maka yang perlu kita lakukan adalah menerimanya dengan sikap dewasa dalam menerima perbedaan dan memperluas wawasan paham keagamaan agar perbedaan yang ada tidak menjadi sumber konflik, melainkan menjadi aset budaya dan politik. Terutama, para tokoh agama tidak terperangkap pada kecenderungan eksklusif dan menggunakannya sebagai legitimasi kepentingan-kepentingan sesaat dengan mengabaikan martabat keluhuran agama. Dengan kembali ke agama autentik serta menjauhi agama busuk, diharapkan umat beragama mampu menemukan kalimatun sawa’ sehingga menghargai kehidupan, menebarkan cinta dan kasih sayang, serta melayani manusia dan dunianya. Pada akhirnya agama benar-benar menjadi solusi terhadap problematika kehidupan manusia dan mahluk secara umum yang akhirnya membuat agama sebagai problem solver, bukan problem maker.


[1] Istilah tragedi kemanusiaan sengaja digunakan untuk menggambarkan betapa besar korban nyawa dan harta yang diakibatkan oleh disharmoni hubungan antar umat beragama. Namun banyak penulis menyatakan sebagai konflik antarumat beragama. Al-Munawar menyebutnya sebagai disharmonisitas dan konflik horizontal. Lihat Said Aqil Husin Al-Munawar. Fikih Hubungan Antar Agama; Waspada pada Provokasi dan Benturan Peradaban. (Jakarta: Ciputat Press. 2003), hal. 116.

[2] Sindhunata. Pengantar dalam Charles Kimball. Kala Agama Jadi Bencana (terj). (Bandung: Mizan. 2003). hal. 13.

[3] Imam Baehaqi (ed). Agama dan Relasi Sosial; Menggali Kearifan Dialog. (Yogyakarta: LkiS. 2002) hal. v.

[4] Imam Baehaqi (ed). Ibid. hal. v.

[5] Oka Diputhera. Agama dan Budaya Perdamaian dalam Masyarakat Buddha. Dalam Muhaimin AG. Damai di Dunia Damai untuk Semua Perspektif Berbagai Agama. (Jakarta: Puslitbang Kehidupan Beragama Depag RI. 2004) hal. 59.

[6] Ibid. hal. 65.

[7] Ibid. hal. 97.

[8] M. As’ad El-Hafidy. Aliran-aliran Kepercayaan dan Kebatinan di Indonesia. (Jakarta: Ghalia Indonesia. 1977.  hal. 20.

[9] M. As’ad El-Hafidy. Ibid. hal. 65.

[10] Charles Kimball. Kala Agama Jadi Bencana (Penj. Nurhadi) (Bandung: PT Mizan. 2002), hal. 15.

[11] Budhy Munawar Rahman. Kesatuan Transendental dalam Teologi: Perspektif Islam tentang Kesamaan Agama-Agama. Dalam Dialog: Kritik dan Identitas Agama. (Yogyakarta: Dian/Interfidei, 1993), hal. 149.

[12] Dengan mengutip QS. As-Syura:13, Cak Nur menegaskan bahwa agama yang dibawa oleh para nabi itu membawa perintah sama dari Tuhan (kalimatun sawa’), yaitu perintah bertaqwa, tidak menyembah kecuali kepada-Nya, dan menjauhi thaghut. Nurcholish Madjid. Islam Doktrin dan Peradaban. (Jakarta: Yayasan Paramadina, 1992), hal. 492.

[13] Masdar Farid Mas’udi. Agama dan Dialognya. Dalam Dialog: Kritik dan Identitas Agama. (Yogyakarta: Dian/Interfidei. 1993), hal. 151-155.

[14] Amin Abdullah. Studi Agama: Normativitas atau Historisitas?. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), hal. 47-48.

[15] Amin Abdullah. Ibid. hal. 48.

[16] Amin Abdullah. Ibid. hal. 49.

[17] Pluralitas tidak sama dengan kemajemukan. Pluralitas mengacu pada adanya saling bergantung antarberbagai hal yang berbeda, sedang kemajemukan (diversitas) mengacu kepada tidak adanya di antara hal-hal yang berbeda. Lihat Victor I. Tanja. Pluralisme Agama dan problema Sosial. (Jakarta: Pustaka CIDESINDO, 1998). Hal. 4.

[18] Arif Budiman. Dimensi Sosial Ekonomi dalam Konflik Antar Agama di Indonesia. Dalam Dialog: Kritik dan Identitas Agama. (Yogyakarta: Dian/Interfidei. 1993). Hal. 184.

[19] Tolhah Hasan. Manusia sebagai Mahluk, Hamba, dan Khalifah. (Makalah tidak diterbitkan). Disampaikan dalam kuliah agama di Masjid Ainul Yaqin UNISMA Malang Maret 2003.

[20] Gullio Basetti Sani. Koran in the Light of Chistianity. (Chicago: Fransiscan Herald Press. 1977) hal. 11.

[21] Hofmann, menyatakan dengan tegas bahwa konsep perang suci (sacrum bellum) itu tidak ada dalam agama Islam. Dalam Islam misalnya, jihad lebih banyak diartikan sebagai usaha sungguh-sungguh, atau perang melawan kelemahan-kelemahan diri sendiri, bukan perang.  Lihat Murad D. Hofmann. Menengok Kembali Islam Kita. (Tej.) (Bandung: Pustaka Hidayah, 2002), hal. 249-250.

[22] Charless Kimball. Op cit. hal. 237.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: