RETORIKA MODEL SEMITIK DALAM AL-QUR’AN: (TERJEMAHAN SURAH AL-BAQARAH AYAT 1-50)

Oleh: M. Jazeri, M.Pd

 

A.     Pendahuluan

Sejalan dengan berkembangnya Ilmu Bahasa, fungsi bahasa juga semakin meluas. Mulai dari alat penyampai pesan dalam komunikasi sampai anggapan bahwa bahasa merupakan bagian dari budaya masyarakatnya. Lado (1964:23) menjelaskan bahwa bahasa adalah bagian dari budaya dan alat untuk berkomunikasi. Sebagai bagian dari budaya, bahasa sangat erat dengan seluruh perilaku dan jalan pikiran penuturnya. Worf (dalam Sampson, 1980:96) menjelaskan bahwa “the nature of language and its speakers are intimately connected”. Visi dunia (world view) penutur, bahasa, dan budaya yang melatarbelakangi keberadaan suatu wacana merupakan jalinan yang tidak dapat dipisahkan.

Berkaitan dengan jalan pikiran penutur dan budanyanya, muncullah retorika. Retorika dilandasi oleh logika yang berlaku dalam suatu budaya. Sebagai bagian dari budaya, retorika bersifat kontekstual, yakni berbeda dari satu budaya dengan budaya lain dan dapat berbeda pula dari waktu ke waktu. Dengan kata lain, retorika tidak bersifat universal (Wahab, 2006:40).

 Mengutip Kaplan, Wahab (2006: 40) mengemukakan empat model utama retorika yang berlaku di antara budaya-budaya yang ada di dunia.  Pertama,   retorika model Anglon-Saxon yang berkembang dari cara berpikir Plato-Aristotelian. Retorika model Anglo-Saxon ini bersifat linier. Dalam wujud satuan wacana terkecil yaitu paragraph, sifat linier itu tercermin pada cara organisasi pengembangan gagasan.  

Model kedua adalah retorika Semitik yang berkembng dari budaya Arab-Parsia. Retorika Semitik sangat diwarnai oleh penggunaan paralelisme yang berlebihan, yaitu berlebihannya penggunaan kata-kata koordinator dan dan tetapi, baik dalam satuan retorika terkecil maupun yang lebih besar. Karenanya, jumlah kalimat majemuk setara lebih banyak dibanding kalimat majemuk bertingkat.

Model ketiga adalah retorika Asia, termasuk Indonesia. Model ini diwarnai oleh cara penyampian pesan secara tidak langsung. Hal ini dapat dipahami dari budaya Indonesia yang memang bersifat tertutup. Penyampaian pesan secara linier seperti dalam retorika Anglo-Saxon dirasa kurang sopan.

Model keempat adalah retorika Franco-Italian. Model ini diwarnai oleh penggunaan kata-kata yang berlebihan dan berbunga-bunga yang terkadang tidak menyentuh inti masalahnya.

Pertanyaanya kemudian adalah “Benarkah retorika model Semitik diwarnai oleh penggunaan kata-kata koordinator yang berlebihan?” dan “Benarkah dalam retorika Semitik jumlah kalimat majemuk setara lebih banyak dibanding kalimat majemuk bertingkat?” Dalam makalah ini, Penulis ingin mencoba membuktikan kebenaran tesis Kapplan tersebut di atas.

  Penelitian ini bersifat kualitatif dengan ancangan studi dokumenter. Data dalam penelitian ini adalah data verbal yang berupa dokumen tertulis. Sumber data penelitian ini adalah kitab suci al-Qur’an surah al-Baqarah beserta terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Mengingat terbatasnya waktu penelitin, peneliti hanya menganalisis 50 ayat dalam surah al-Baqarah. Analisis data dilakukan dengan alir analisis data kualitatif yang meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan simpulan akhir/trianggulasi.

 

B.     Pengertian Retorika

Golden, dkk (1983:13) menjelaskan bahwa retorika adalah studi tentang bagaimana seseorang mempengaruhi orang lain untuk membuat pilihan secara bebas. Retorika dipandang sebagai studi yang tertua dan yang paling sentral dalam berbagai studi kemanusiaan. Brooks dan Warren (1970: 6) menjelaskan bahwa retorika adalah seni penggunaan bahasa secara efektif. Oleh sebab itu, pada awalnya retorika memang diartikan sebagai kesenian untuk berbicara yang dicapai berdasarkan bakat alam (talenta) dan keterampilan teknis (Hendrikus, 1991:14). Namun sebagai suatu ilmu, retorika ditandai oleh seperangkat ciri yang merupakan karakteristik keilmuannya. Seperangkat ciri yang dimaksud meliputi: (1) pradigma yang mencakup perspektif teori secara umum dan model berpikir terhadap fenomenanya, (2) metode dan instrumen yang dipergunakan, dan (3) jangkauan pemersalahannya (Khun dalam Andersen, 1988: 155; Oka & Basuki, 1990:41-62).

Dalam keberadaannya sebagai ilmu dan model berpikir, maka dapat dikatakan bahwa retorika bersangkut-paut dengan faktor-faktor analisis, pengumpulan data, interpretasi, dan sintesis (Wahab, 2006: 39). Jika model berpikir ini merupakan satu implementasi lebih lanjut dari paradigma yang dianut, maka verifikasinya terletak pada kriteria diterima atau tidaknya model berpikir tersebut sebagai suatu paradigma has less to do with truth and logic than with its persuasiveness and the relative strength of followers within the scientific community”.

Verifikasi terhadap retorika untuk memenuhi karakteristik keilmuannya, maka terdapat tiga macam pertanyaan yang ditujukan pada setiap ilmu yang dikenakan pula pada retorika adalah. (Parera, 1987: 4). Pertama, apakah retorika itu? Dengan kata lain orang bertanya tentang hakikat retorika atau ontologi retorika. Kedua, ialah pertanyaan tentang bagaimana retorika itu? Pertanyaan ini bermaksud memperoleh jawaban bagaimana mempelajari retorika atau menganalisisnya. secara ilmiah pertanyaan disebut epistemologi retorika. Ketiga, pertanyaan tentang untuk apa retorika? Pertanyaan ini mempertanyakan manfaat studi retorika, yakni tentang aksiologi retorika.

 Kapplan (dalam Croft, 1980) mengingatkan kita bahwa tindakan dan objek tertentu tampak sangat berbeda bila dilihat dari budaya yang berbeda pula, tergantung pada nilai-nilai yang melekat padanya. Dalam mendefinisikan retorika, menurut Campbell (1972), haruslah diarahkan kepada upaya “mencerahkan pemahaman, menyenangkan imajinasi, menggerakkan perasaan, dan mempengaruhi kemauan”.

 Sementara itu terkait dengan fungsi retorika rakhmat memilah dalam tiga macam, yakni: informatif, persuasif, dan rekreatif. Menurut Ehninger (1978), pidato informatif dapat dikelompokkan ke dalam: oral report, oral instruction, dan informatif lectures. Sedangkan tehnik-tehnik pidato persuasif oleh Ehninger dirinci berdasarkan jenis khalayaknya. Sementara itu pidato rekreatif oleh Monroe (1978) disebut sebagai “the speech to entertain”.

Dalam kaitannya dengan perkembangan studi retorika Syafi’ie (1989: 70-71) menjelaskan bahwa pada mulanya, yaitu pada zaman retorika klasik di Yunani-Romawi, studi retorika dilaksanakan pada komunikasi lisan. Kemudian pada masa abad pertengahan studi retorika juga dilakukan pada komunikasi tulis. Bahkan dalam perkembangan selanjutnya, yaitu sejak ditemukannya mesin pencetak yang memungkinkan reproduksi naskah dalam jumlah besar dan dalam waktu yang singkat, studi retorika dalam komunikasi tulis semakin penting.

Lebih lanjut dalam kaitannya dengan retorika sebagai sistem Syafi’ie (1989:71) menjelaskan sebagai berikut:

 “Dalam hal ini yang dimaksud dengan sistem adalah suatu kesatuan yang di dalamnya terdapat sejumlah komponen; masing-masing komponen memiliki peranan dan fungsi tertentu; antara komponen yang satu dengan yang lain terdapat hubungan yang erat sehingga terbentuk suatu organisasi yang efektif untuk mencapai tujuan. Berdasarkan pandangan retorika sebagai suatu proses yang sistematis dalam komunikasi, serta pengertian sistem sebagaimana diuraikan itu, kita dapat melihat hubungan-hubungan yang terjadi di dalamnya”.

 

Komponen-komponen proses retoris adalah penutur (pembicara atau penulis), pesan komunikasi (message), saluran (chanel), alam semesta (universe) mekro atau mikro, dan audience (pendengar atau pembaca) (Syafi’ie, 1989: 71). Sebagai suatu sistem, maka antara berbagai komponen tersebut memiliki hubungan dalam jalinan mekanisme yang bersifat timbale balik. Komponen-komponen tersebut secara keseluruhan membentuk suatu proses retoris. Sejalan dengan berbagai macam perspektif retorika, Syafi’ie (1989: 71) menjelaskan bahwa “Di samping komponen-komponen dalam proses rotoris tersebut, retorika sendiri mempunyai sejumlah substansi, yaitu penalaran yang baik, materi premis, bahasa, dan etika”.

Retorika merupakan satuan tiga unsur besar yang disebut sebagai trivium. Unsur-unsur yang ada dalam trivium meliputi: logika (atau dialetika): seni penalaran, pendefinisian, penelitian, dan penemuan kebenaran; gramatika: sintaksis, bahasa figuratif, telaah puisi; dan retorika: pemaparan, gaya bahasa, dan komposisi (Golden, dkk, 1983: 98)

 Berdasarkan perkembangan konsep retorika sampai dewasa ini, maka unsur-unsur retorika meliputi semua aspek konsepsi, metodologis, permasalahan, perwujudan, dan fungsinya. Bertolak dari pertimbangan semua aspek ini, maka unsur-unsur retorika meliputi: (1) gagasan (proposisi, argumen, penalaran); (2) struktur paparan (kohesi dan koherensi); dan (3) bahasa (diksi, kalimat, gaya bahasa). Ketiga unsur pokok retorika ini pada hakikatnya perwujudan prinsip-prinsip dasar dalam retorika modern yang meliputi: (1) penguasaan secara aktif sejumlah besar kosakata, (2) penguasaan secara aktif kaidah-kaidah ketatabahasaan, (3) penguasaan gaya bahasa, (4) penguasaan penalaran yang urut dan logis, dan (5) penguasaan teknik pemaparan, baik lisan maupun tulis (Keraf, 1985: 18-19).

Dengan memperlihatkan sebagai prinsip retorika ini dan sejumlah unsur tetorika sebagaimana yang telah disebutkan, maka konsep retorika secara tradisional yang hanya diasosikan dengan penggunaan bahasa saja yang dapat dikembangkan. Cara mempergunakan bahasa dalam bentuk wacana tidak hanya mencakup aspek kebahasaan saja, tetapi juga aspek penyusun pesan, penalaran yang logis, adanya fakta-fakta yang menyakinkan sebagai argumentasinya. Dengan demikian kajian retorika akan mencakup pesan atau struktur gagasan, struktur paparan atau komposisi, dan struktur bahasa; baik dalam wacana lisan maupun tulis.

 

C.     Problematika Terjemahan

Tidak dipungkiri lagi bahwa aktivitas terjemahan telah membuat komunikasi ilmu tanpa batas. Dengan terjemahan kita ditolong untuk mampu mengenal karya intelektual bangsa lain. Ziarah intelektual ke masa lampau atau ke komunitas asing menjadi lebih terbuka berkat bantuan karya-karya terjemahan sebagai pemandunya.

Bisa dipastikan, mayoritas umat Islam non-Arab memahami kandungan al-Qur’an melalui karya terjemahan. Penerjemahan suatu karya ke bahasa lain dimungkinkan menurut Hidayat (2004) karena  beberapa alasan. Pertama, adanya suatu kepercayaan terhadap adanya universal language yang dimiliki manusia yang mengatasi keragaman bahasa dan budaya regional. Dengan adanya bahasa dan logika universal, ekspresi pemikiran yang diungkapkan dalam sebuah bahasa dapat diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa yang berbeda. Kedua, pengalaman manusia yang bersifat universal terutama tindakan yang bersifat natural yang sangat mudah dimengerti dan dipahami oleh setiap orang sehingga mudah pula diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Ketiga, adanya objek-objek alamiah seperti air, gunung, pohon, api, dan sejenisnya yang pada gilirannya melahirkan teori bahasa picture theory atau referensial theory.

Namun demikian, perlu kita catat bahwa khazanah bahasa sutu masyarakat selalu tumbuh dan berkembang seiring sifat natural manusia yang dinamis. Potensi akal manusia yang tidak diketahui batas akhirnya dan yang selalu ingin membuka horizon pengetahuan dan pengalaman baru ikut pula mendorong dinamika bahasa. Jika dahulu manusia hanya mengenal kata “gunung”, dengan berkembangnya ilmu Geologi dan Vulkanologi lahir pula sekian kata dan konsep yang berhubungan dengan kata “gunung”.

Di samping itu, perlu juga diperhatikan bahwa kedinamisan masyarakat berbeda antara satu dengan lainnya sehingga sebuah karya dari masyarakat yang maju sulit diterjemahkan dalam bahasa masyarakat yang belum maju. Factor alam pun ikut mempengaruhi alam pikiran dan bahasa suatu masyarakat. Alam pikiran dan bahasa masyrakat agraris pasti berbeda dengan alam pikiran dan bahasa masyarakat maritime, atau mayarakt padang pasir. Sekedar contoh, jumlah istilah dan pemahaman masyarakat Eskimo tentang salju, masyarakat Arab tentang unta, dan masyarakat Indonesia tentang nasi, tentu sulit diterjemahkan ke dalam bahasa lain yang tidak akrab dengan ketiga benda dan seluk-beluk yang berkaitan dengannya.

Dengan demikian dapt dipahami bahwa di samping memiliki kelebihan, karya terjemahan juga memiliki kekurangan. Kekurangan yang harus kita perhatikan adalah bahwa ternyata tidak mudah memindahkan nilai rasa bahasa dan kultur yang menyertainya ke dalam bahasa dan kultur lain. Mengingat setiap bahasa memiliki alam pikiran serta lingkungan kultural yang spesifik, maka ketika diterjemahkan, suatu karya pasti mengalami perubahan makna, baik yang berifat pengembangan maupun penyusutan. Ambil contoh al-Qur’an. Karena ia diturunkan dan ditulis dalam bahasa Arab, maka ia tidak dapat dilepaskan dari alam pikiran dan kultur masyarakat Arab yang hidup di gurun pasir. Ketika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, misalnya, ia akan mengalami pengurangan dan penambahan yang dalam beberapa kasus dapat merubah makna dasarnya. Meskipun demikian, karena al-Qur’an merupakan wahyu Tuhan yang tentunya bersifat universal, konteks budaya Arab sering disesuaikan dengan konteks budaya penerjemahnya. Misalnya, kewajiban mengeluarkan zakat ternak dan tanaman. Masyarakat Indonesia yang tidak beternak unta, menanam kurma dan gandum seperti orang Arab, tetap saja wajib mengeluarkan zakat sapi, padi, bahkan zakat profesi.

 

D.    Retorika Model Semitik dlam Al-Qur’an

1.      Penggunaan Kata-kata Koordinator

Berdasarkan hasil analisis data ditemukan bahwa dalam ayat-ayat al-Qur’an banyak dijumpai penggunaan kata-kata koordinator, terutama dan sebanyak 75 kasus. Hasilnya, dapat ditebak bahwa penggunaan kata-kata kordinator setara yang lebih besar pasti menunjukkan bahwa penggunaan kalimat majemuk setara lebih banyak dibandingkan kalimat majemuk bertingkat.

Namun ada dua hal yang menarik di sini, yakni (1) tidak semua kata dan diterjemahkan, dan (2) tidak semua kata dan memiliki fungsi sebagai koordinator.

Pertama, beberapa kata dan ternyata tidak diterjemahkan, terutama kata dan yang menghubungkan lebih dari dua hal atau topik. Kata dan di sini digantikan dengan tanda koma (,). Dengan kata lain kata fungsi digantikan dengan mekanik. Perhatikan contoh berikut ini:

“Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’ (QS. Al-Baqarah, 43).

“Orang bertaqwa adalah mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat, dan yang menafkahkah sebagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka” (QS. Al-Baqarah, 3).

 

Kedua, beberapa kata dan ternyata tidak berfungsi sebagai kata coordinator, melainkan berfungsi sebagai pemula kalimat. Karena itu sering kita jumpai kalimat dalam bahasa Arab dimulai dengan kata dan. Dalam bahasa Arab jika kata dan (wa) terletak di awal kalimat, ia tidak berfungsi sebagai huruf ‘athaf (koordinator), melainkan sebagai pemula kalimat (wau isti’naf). Di sini dapat difahami tesis Kapplan bahwa retorika model semitik menggunakan kata-kata koordinator secara berlebihan. Namun jika dicermati lebih dalam, kata-kata koordinator yang dimaksud Kapplan mungkin termasuk juga kata-kata dan sebagai pemula kalimat yang tidak berfungsi sebagai koordinator.

 

2.      Penggunaan Kalimat Tunggal

Berdasarkan hasil analisis data ditemukan bahwa penggunaan kalimat tunggal dalam data yang diteliti terjadi sebanyak 5 kasus. Hal ini dapat dimaklumi karena kecenderungan bahasa Arab yang lebih menyukai kalimat majemuk dengan penggunaan kata-kata koordinator yang berlebihan.

 

3.      Penggunaan Kalimat Majemuk Setara

Penggunaan kalimat majemuk setara merupakan kasus yang paling sering muncul. Dari lima puluh ayat yang analisis, penggunaan kalimat majemuk setara terjadi sebanyak 47 kali, baik kalimat majemuk setara penambahan, pertentangan, pilihan, dan pengurutan. Penemuan ini mendukung penelitian yang telah dilakukan oleh Kapplan, yakni dalam retorika model Semitik penggunaan kalimat majemuk setara lebih besar daripada penggunaan kalimat majemuk bertingkat.

 

4.      Penggunaan Kalimat Majemuk Bertingkat

Penggunaan kalimat majemuk bertingkat merupakan kasus kedua yang paling sering muncul. Dari lima puluh ayat yang analisis, penggunaan kalimat majemuk bertingkat terjadi sebanyak 32 kali. Penemuan ini sekali lagi mendukung penelitian yang telah dilakukan oleh Kapplan, yakni dalam retorika model Semitik penggunaan kalimat majemuk setara lebih besar daripada penggunaan kalimat majemuk bertingkat.

 

E.     Penutup

Penelitian ini menemukan bahwa dalam ayat-ayat al-Qur’an banyak dijumpai penggunaan kata-kata koordinator. Namun ada dua hal yang menarik di sini, yakni (1) tidak semua kata dan diterjemahkan terutama yang menghubungkan dua fakta atau lebih, dan (2) sebagian kata dan memiliki fungsi sebagai pemula kalimat (isti’naf). Karena penggunaan kata koordinator yang berlebihan, dapat tebak bahwa penggunaan kalimat majemuk lebih bear dari penggunaan kalimat tunggal.

Penggunaan kalimat majemuk setara merupakan kasus yang paling sering muncul. Dari lima puluh ayat yang analisis, penggunaan kalimat majemuk setara terjadi sebanyak 47 kali, sedangkan penggunaan kalimat majemuk bertingkat merupakan kasus kedua yang paling sering muncul. Dari lima puluh ayat yang analisis, penggunaan kalimat majemuk bertingkat terjadi sebanyak 32 kali. Penemuan ini dengan sendirinya mendukung tesis Kapplan, yakni dalam retorika model Semitik penggunaan terjadi penggunaan kata-kata coordinator secara berlebihan sehingga penggunaan kalimat majemuk setara lebih besar daripada penggunaan kalimat majemuk bertingkat.

  

  

DAFTAR RUJUKAN

 

 

Andersen, Roger. 1988. Overwriting and Other Tehnique for Success with Academic Articles in Robinson, Paulin C (Ed). 1988. Academic Writing Process and Product. Hongkong: Modern English Publications in Association with The British Council.

 

Brooks, Cleanth dan Warren, Robert Penn. 1970. Modern Rethoric. New York: Harcourt, Brace and World.

 

Golden, James L; Berquist, Goodwin, and Coleman, William E. 1983. The Rethoric of Western Thought. Iowa: Kendll/Hunt Publishing.

 

Hendrikus, P. Dori Wuwur. 1991. Retorika. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

 

Hidayat, Komarudin, 2004. Memahami Kehendak Tuhan. Jakarta: Penerbit Teraju.

 

Keraf, Goris. 1985. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Penerbit Gramedia.

 

Keraf, Goris. 1994. Argumentasi dan Narasi. Jakarta: Penerbit Gramedia.

 

Lado, Robert. 1964. Language Teaching-A Scientific Approach. New York: Mc-Graw-Hill, Inc.

 

Miles, Mattew B. dan Huberman, A. Michael (terj. Tjetjep Rohenndi). 1992. Analisis Data Kualitatif. Jakarta: UI Press.

 

Oka, I.G.N. dan Basuki. 1990. Retorik Kiat Bertutur. Malang: Penerbit YA3 Malang.

 

Parera, Jos. Daniel. 1987. Studi Linguistik Umum dan Historis Bandingan. Jakarta: Penerbit Erlangga.

 

Sampson, Geoffrey. 1980. Schools of Linguistics: Competition and Evaluation. London: Hutchinson.

 

Syafi’ie, Imam. 1988. Retorika dalam Menulis. Malang: PPS IKIP Malang.

 

Wahab, Abdul. 2006. Isu Linguistik Pengajaran Bahasa dan Sastra. Surabaya: Airlangga University Press.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: