FRIEDRICH WILHELM NIETZSCHE: The Will to Power

Oleh: M. Jazeri

 

Kehidupan Nietzsche

 Friedrich Wilhelm Nietzsche lahir di Rocken, Prusia 15 Oktober 1884. Karena tanggal lahirnya sama dengan Raja Prusia, Friedrich Wilhelm, ayahnya memberinya nama yang sama dengan sang Raja. Ia bertubuh kecil dan lemah, namun pikirannya mampu menggegerkan Eropa. Ayahnya seorang pendeta dan kakeknya seorang teolog yang ahli menulis. Ia seorang yang lembut dan pemalu karena dididik dalam keluarga yang penuh kasih sayang dan kemanjaan dari ibu dan saudara-saudara perempuannya. Pada masa kecil ia tekun sekali membaca injil karena kegemaran utamanya adalah membaca. Meski dalam hidupnya dirundung malang, ia menghadapinya dengan gagah berani sebagaimana semboyannya ‘amor fati’.

Pada masa mahasiswa, ia banyak berkenalan dengan orang-orang besar yang akhirnya memberi pengaruh dalam pemikirannya, seperti Johan Goethe, Richard Wagner, Arthur Schopenhouer, dan Fredrich Ritschl. Ia pernah meraih karier akademis bergengsi di Universitas Basel sebagai professor. Namun karena kesehatannya memburuk, ia mengundurkan diri. Pada usia 46 tahun, rajawali kaum filsof, demikian ia dijuluki karena menjadi filsof bagi para filsof, ini menghembuskan nafas terakhirnya di Weimar.

Filsafat Nietzsche bagaikan samudera yang menampung air dari berbagai aliran sungai. Ada warna realisme, empirisme, skeptisme, radikalisme, positivisme, vitalisme, dan pragmatisme. Dari berbagai warna aliran tersebut, di tangan Nietzsche melebur menjadi filsafat nihilisme, di mana warna berbagai aliran tersebut sulit dilihat secara terpisah. Nietzsche membuat sejarah filsafat dengan halaman-halaman baru yang segar, ganas, gemilang, gila….namun merupakan karya-karya besar.

 

The Will to Power sebagai Inti Ajaran Nietzsche

Wacana epistemoligi sejak zaman Plato sampai Descartes bahkan sampai zaman sekarang ini selalu berupaya mencari kebenaran. Namun tidak demikian bagi Nietzsche. Pengetahuan itu tidak untuk mencari kebenaran, melainkan untuk mengukuhkan kekuasaan. Pengetahuan itu untuk berkuasa. Pengetahuan selau berkait dengan kehendak untuk berkuasa (the will to power).

Nietzsche mengajukan ide kontroversialnya dalam epistemology. Pandangan epistemologinya didasarkan asumsi bahwa kita harus menggunakan skeptisme radikal terhadap kemampuan akal. Tidak ada yang dapat dipercaya dari akal. Terlalu naïf jika akal dipercaya mampu memperoleh kebenaran. Kebenaran itu ssendiri tidak ada. Jika orang beranggapan bahwa dengan akal diperoleh pengetahuanatau kebenaran, maka akal sekaligus merupakan sumber kekeliruan.

Karya Der Wille zur Macht (The Will to power) merupakan magnum opus Nietzsche. Inti semua ajarannya terdapat di sini. Konsepsi kehendak untuk berkuasa adalah titik pusat dari filsafat Nietzsche. Dalam Zarathustra, ia mengungkapkan bahwa kehendak untuk berkuasa merupakan motif dasar segala tingkah laku dan penilaian manusia. Ia menegaskan bahwa kehendak itu ada pada semua mahluk hidup. Pengetahuan sebagai salah satu dari sekian banyak kegiatan manusia tentu saja tidak dapat dilepaskan dari konsep ini. Ia memasukna motif kegiatan mengetahui dalam epistemologinya. Menghubungkan kehendak untuk berkuasa dengan pengetahuan merupakan hal yang aneh apabila dibahas dalam kerangka pengetahuan manusia secara sempit (epistemologi sempit). Nietzsche melihat pengetahuan dalam kerangka yang lebih luas dan menyeluruh dalam rangka memahami manusia secara utuh (epistemology luas). 

 

Vitalisme dan Nihilisme

Nietzsche adalah seorang vitalis. Namun, vitalismenya berbeda dengan Henry Bergson di mana élan vital dipahami sebagai daya hidup, unsure yang merupakan inti hidup. Bagi Nietzsche, vitalisme lebih bersifat aktif, mengandung makna semangat hidup. Kita harus mencintai hidup, namun kecintaan itu buka berarti takut mati. Hidup harus dihadapi dengan penuh keberanian, tidak boleh menyerah. Manusia harus siap menghadapi tantangan dan bahaya karena ia akan membuat manusia menjadi besar. Untuk itu, manusia harus bebas dari kekuatiran dosa dan nilai-nilai tradisional yang membelenggu potensi kemanusiaan. Cinta kehidupan berarti sanggup menanggung kenyataan bahwa manusia bukanlah sesuatu yang sudah selesai, ia selalu dalam proses menjadi. Manusia adalah jembatan antara binatang dan manusia agung.

Aktivitas pemikiran harus diletakkan pada landasan keberanian, yang berasal dari keinginan untuk terus bergerak maju dan menantang penghalang. Manusia bebas harus berkreasi, mencipta. Dalam berkreasi, manusia harus menelorkan hal-hal yang benar-benar orisinal, walaupun bertentangan dengan pemikiran pada masa itu. Di sinilah Nietzsche sampai pada nihilisme. Nihilisme merupakan syarat untuk menjamin orisinalitas dalam berkreasisehingga kreasi itu benar-benar bermakna.

Manusia harus berani menolak nilai-nilai dan pemikiran yang ada sebelumnya. Teori-teori, hukum-hukum, pengetahuan yang diciptakan harus benar-benar dilepaskan dari konsep sebelumnya, bahkan teori yang sudah besar dan mapan pun harus dilepaskan. Kritik dan penolakan ini bukan semata karena skeptismenya terhadap kemampuan akal, tetapi juga karena semangat nihilismenya. Selama teori yang ada selalu dianggap benar, maka tidak akan muncul pengetahuan baru. Dengan sendirinya tidak akan ada kemajuan. Di sinilah Nietzsche mengajarkan suatu keterbukaan ilmu yang pada abad ke 20 diteruskan oleh Karl Popper.  (disarikan dari buku Epistemologi Kiri, Karya: Listiono Santoso, dkk).

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: