PESAN TOLERANSI BERAGAMA DALAM AYAT-AYAT CINTA

Pemerhati sastra Islami dan Mahasiswa S3 Pendidikan Bahasa Indonesia

Universitas Negeri Malang

Pendahuluan

 Novel Ayat-ayat Cinta (AAC) dengan jelas, menurut hemat saya, menawarkan cara baca doktrin fanatis dengan bahasa cinta. Jika seorang ayah mengatakan kepada anaknya, ”Nak, kau harus menghormati ibumu karena ibumu adalah ibu terbaik di dunia”, tentu bukan berarti bahwa ibu-ibu yang lain tidak baik dan (karenanya) tidak perlu dihormati. Melalui AAC, Kang Abik (Habiburrahman El-Shirazy) ingin menyampaikan pesan bahwa dalam realitas masyarakat yang pluralis, sikap terbaik adalah menghormati dan menghargai perbedaan karena perbedaan adalah sunnatullah. Bukankah jika menghendaki Allah bisa membuat umat sedunia seiman semua?

Sebuah karya sastra adalah representasi pandangan dunia (world view) pengarangnya dalam merespon realitas. AAC adalah perwujudan pandangan Kang Abik dalam merespon pluralitas agama. Melalui tokoh utama Fakhri, Kang Abik memimpikan sikap ideal seorang muslim dalam menyikapi pluralitas. Dibantu tokoh lain seperti keluarga Butros (Tuan Boutros, Madame Nahed, Maria, dan Yousef), Kang Abik semakin terlihat ingin menampilkan sosok Fakhri sebagai muslim yang ideal. Pemahaman doktrin Islam seperti itu tentu tidak muncul begitu saja, melainkan melalui proses panjang pergulatannya dengan realitas. Dalam bahasa Bourdieu, AAC merupakan praktik sosial Kang Abik, yakni ekternalisasi interioritas yang dimiliki dan internalisasi ekterioritas yang dihadapi. Dengan kata lain, AAC merupakan hasil dialektika antara habitus Kang Abik dengan pasar linguistik yang dihadapi. Artinya, AAC merupakan interpretasi Kang Abik yang master Hadist dari Universitas Al-Azhar terhadap doktrin Islam dalam menghadapi realitas masyarakat Indonesia yang pluralis.

 

Pesan Toleransi Beragama AAC

Paling tidak ada dua bab yang syarat dengan pesan toleransi beragama, yakni “Kejadian di dalam Metro” (bab 3) dan “Hadiah Perekat Jiwa” (bab 9). ”Kejadian di dalam Metro” mengandung pesan bagaimana seorang muslim menghormati dan menghargai tamunya yang non-muslim. ”Hadiah Perekat Jiwa” menyampaikan pesan bagaimana seharusnya seorang muslim bertetangga dan bergaul dengan non-muslim. Jadi, paling tidak dua bab tersebut dalam AAC yang menyarakan pesan toleransi beragama.

Kejadian di dalam Metro

Pada “Kejadian di dalam Metro” dikisahkan bahwa di siang hari yang panas, Metro penuh sesak dengan penumpang. Kemudian, masuklah tiga turis Amerika yang berpakaian aneh (menurut budaya Mesir). Saat itulah terjadi percekcokan antara orang-orang Mesir (Ashraf dan beberapa orang Mesir) yang melaknat turis Amerika dan mencaci Aisya yang menghormati seorang turis Amerika (dengan memberikan tempat duduk kepadanya) dengan Fakhri (orang Indonesia yang kuliah master di al-Azhar). Bagi Fakhri, tindakan orang Mesir yang melaknat turis Amerika dan Aisya (muslimah yang menghargai turis) tidak sesuai dengan ajaran Islam. Islam mengajarkan untuk menghormati tamu, melindungi kafir dzimmi, dan memuliakan sesama manusia. Jika Tuhan saja memuliakan manusia, kenapa masih ada manusia yang mencaci dan melaknat manusia? Di sini Kang Abik menunjukkan pandangannya tentang bagaimana toleransi beragama yang diajarkan Islam. Perhatikan kutipan berikut:

Tindakan Ashraf melaknat tiga turis Amerika itu sangat aku sesalkan. Tindakannya kurasa jauh dari etika al-Qur’an, padahal dia tiap hari membaca al-Qur’an. Ia telah menamatkan qira’ah riwayat imam Hafsh. Namun, ia berhenti pada cara membacanya saja, tidak sampai pada penghayatan ruh kandungannya. Semoga Allah memberikan petunjuk di hatinya.

Melalui tokoh Fakhri, dalam kutipan di atas, Kang Abik ingin mengkritik cara beragama sebagian umat Islam. Mereka membaca al-Qur’an, menghatamkan berkali-kali, bahkan menghafalnya di luar kepala, namun belum mampu menghayati ruh (pesan terdalam) dari apa yang dibacanya. Untuk menjadi seorang muslim yang ideal, seseorang harus membaca, menghayati, dan mengamalkan al-Qur’an. Jika pengamalan al-Qur’an didasarkan penghayatan terhadap ruh al-Qur’an, maka umat Islam akan menjadi Fakhri-Fakhri baru.

Selain Fakhri, pesan toleransi beragama juga dititipkan  pada tokoh Maria, gadis Mesir yang namanya sama dengan nama salah satu surat dalam al-Qur’an. Maria ditampilkan sebagai sosok yang santun, dan menghargai agama lain. Maria adalah gadis mesir yang beragama Kristen Koptik, namun sangat menghormati Islam. Begitulah seharusnya sikap yang dimiliki oleh setiap umat beragama terhadap agama lain.

Selama ini, aku hanya mendengar dari bibirnya yang tipis itu hal-hal positif tentang Islam. Dalam hal etika berbicara dan bergaul, ia terkadang lebih Islami daripada gadis-gadis Mesir yang mengaku muslimah. Jarang sekali kudengar ia tertawa cekikikan. Ia lebih suka tersenyum saja. Pakaiannya longgar, sopan dan rapat. Selalu berlengan panjang dengan bawahan sampai tumit.

 

Hadiah Perekat Jiwa

“Hadiah Perekat Jiwa” (bab 9), juga kental sekali dengan pesan toleransi beragama. Melalui tokoh Fakhri dan keluarga Butros, Kang Abik ingin menunjukkan bagaimana seharusnya seorang muslim bergaul dengan non-muslim. Perbedaan agama bukanlah penghalang bagi seorang muslim untuk memperlakukan non-muslim secara adil baik sebagai teman atau saudara. Fakhri yang muslim dan keluarga Butros yang Kristen Koptik dapat saling bertetangga, bergaul, membantu dengan baik tanpa ada prasangka. Titip-menitip dan mengirim hadiah sering mereka lakukan balas berbalas tanpa menghiraukan perbedaan keyakinan yang mereka imani.

Kita mengamalkan hadist Nabi, Tahaadu tahaabbu! Salinglah kalian memberi hadiah maka kalian akan saling mencintai! Ini saat yag tepat ntuk memberikan kejutan kepada tetangga kita yang baik itu. Mereka sering sekali memberikan makanan dan minuman kepada kita. Mereka juga perhatian pada kita.

Melalui tokoh Mbah Ehsan, Kang Abik mengkritik orang yang dengan mudah menganggap bid’ah amalan yang tidak ada nash sharih dalam al-Qur’an dan Hadits. Pesta ulang tahun, misalnya, selama ini dianggap sebagai bid’ah, namun dalam AAC pesta ulang tahun atau neptu anaknya bagi orang desa merupakan ungkapan rasa sayang orang tua kepada anaknya agak anaknya merasa memiliki sesuatu yang istimewa dan tumbuh rasa percaya dirinya. Tentu dalam batas-batas yang wajar, tidak berlebihan (isyraf).

Pernah ada kiai muda dalam suatu pengajian di surau melarang ibu-ibu membuat pesta untuk anak-anak seperti itu (membuat makanan lengkap dengan lauk pauknya yang diletakkan di atas tampah untuk dimakan bancakan dengan teman-temannya di hari neptu seorang anak (Pen)). Katanya itu bid’ah. Ibu-ibu bingung dan lapor pada Mbah Ehsan. Mbah Ehsan yang pernah belajar di Pesantren Mambaul Ulum Surakarta itu hanya tersenyum dan bilang tidak apa-apa, tidak bid’ah, malah dapat pahala menyenangkan anak kecil. Kanjeng Nabi adalah teladan. Beliau paling suka menyenangkan hati anak kecil.

 

Akhirul Kalam

Agama sering muncul sebagai sebuah paradoks, yakni di satu sisi ia mengajarkan kasih sayang dan perdamaian, namun di sisi lain ia juga menjadi sumber kebencian, disharmoni, dan konflik horizontal. Mengapa begitu? Karena agama dipahami secara parsial dan tidak menyentuh pesan utama mengapa agama diturunkan Tuhan. Akibatnya, banyak kekerasan, konflik, bahkan perang yang dipicu oleh perbedaan agama. Akar masalahnya adalah truth claim dan salvation claim yang dimiliki oleh setiap agama atau aliran agama. Setiap umat agama atau aliran dalam agama menganggap bahwa hanya merekalah yang benar dan selamat, sedang yang lain salah dan sesat. Logika yang mereka gunakan adalah ”jika A benar, maka selain A adalah salah”, jika agama saya benar, maka selain agama saya adalah salah. Dalam masyarakat dengan realitas pluralitas agama, logika semacam itu tentu berbahaya.

Setelah membaca AAC saya berkesimpulan bahwa Kang Abik dapat dikelompokkan mereka yang berpikir liberal, kontekstual, dan inklusif. AAC mengajak pembaca untuk membaca kembali doktrin-doktrin fanatis agama dengan cara baca cinta. Dengan bahasa cinta, maka semangat kebersamaan dan berkoeksistensi akan menghiasi kehidupan umatnya. Dengan kata lain, toleransi beragama, baik intraagama maupun antaragama akan mewarnai kehidupan beragama. Semoga..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: